Kabut Pagi Situ Gunung

WP_20141030_10_55_31_Pro_wm

” Situ Gunung “

Postingan saya kali ini masih melanjutkan postingan sebelumnya Ada Situ Sangkuriang di Lembang. Karena perjalanan saya belum berakhir. Setelah dari Bandung, keesokan harinya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah kota di lereng Gunung Gede-Pangrango, yaitu Sukabumi. Melanjutkan silaturahmi untuk berkunjung ke rumah sahabat lama saya yang lain, sahabat dekat yang juga masih satu SMA.

Saya mengenal Sukabumi dari sinetron favorit saya semasa masih anak-anak, yaitu Keluarga Cemara. Sinetron yang mengambil lokasi cerita di kota tersebut. Saya jadi sering berkunjung ke Sukabumi karena kebetulan teman saya bertugas di kota tersebut. Menjadi salah satu tempat pelarian saya selain Bandung dikala jenuh dengan rutinitas kerja. Karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Sukabumi memiliki banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Beberapa kali saya pergi ke Sukabumi hanya sempat diajak main oleh teman saya di sekitaran kota dan ke Pelabuhan Ratu. Mengingat kesibukan teman saya yang bertugas sebagai aparat kepolisian. Saya penasaran dengan salah satu tempat wisata yang terkenal di Sukabumi yaitu Situ Gunung. Sebuah tempat yang saya dengar mempunyai pemandangan indah.

Dinginnya pagi Kota Sukabumi di akhir bulan oktober 2014, membuat saya enggan cepat-cepat beranjak dari tempat tidur. Masih erat mendekap hangatnya selimut yang membungkus tubuh kurus saya. Pagi pun merayap cepat, matahari beranjak meninggi menyisakan tipis kabut pagi. Bersamaan dengan itu saya melangkahkan kaki menuju Situ Gunung. Menyisir trotoar jalan di keramaian pagi Sukabumi.

WP_20141030_13_13_40_Pro_wm

” Gerbang Masuk Situ Gunung “

Angkot hijau yang saya naiki perlahan berhenti di keramaian alun-alun Cisaat. Sang sopir menurunkan saya tepat di seberang pertigaan jalan menuju Situ Gunung. Untuk menuju Situ Gunung saya berganti angkot warna merah yang berjajar di pinggir jalan. Karena saya pergi tidak di hari libur, angkot tersebut kebanyakan tidak sampe ke gerbang masuk Situ Gunung.

Dengan membayar lebih ongkos angkot, saya diantar sampe gerbang masuk Situ Gunung. Suasana di gerbang masuk sepi, loket tiket pun tidak ada yang menjaga. Dengan leluasa saya masuk ke dalam tanpa mengeluarkan biaya sama sekali alias gratis. Saya membaca papan kayu petunjuk arah, Situ Gunug belok kiri sedang lurus menuju air terjun atau Curug Sawer.

WP_20141030_13_13_21_Pro_wm

” Harga Tiket Tahun 2014 “

Saya menghampiri seseorang yang baru keluar dari rumah pos jaga. Dari perbincangan kami, saya mendapat info kalau air terjun atau Curug Sawer sementara ditutup karena terjadi longsor yang memutus akses jalan menuju Curug Sawer. Dengan berjalan kaki saya menuju Situ Gunung menyusuri jalanan berbatu. Berjalan diantara rimbunnya pepohonan di hutan lereng Gunung Gede-Pangrango.

WP_20141030_11_53_53_Pro_wm

Dengan menyusuri jalanan berbatu sepanjang satu kilometer akhirnya saya sampai di lokasi Situ Gunung. Diantara pepohonan besar saya bisa melihat penampakan permukaan air Situ Gunung. Suasana hutan yang sepi dan tenang dapat saya rasakan. Situ gunung memang terletak di area Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sehingga keasrian hutannya masih terjaga dengan baik.

WP_20141030_12_22_26_Pro_wm

Rerumputan hijau menghampar di sekitar situ, membuatnya seakan menyatu dengan warna hijau rimbunnya pepohonan yang mengelilingi situ. Kabut pagi masih setia menyelimuti perbukitan dan lebatnya hutan Gunung Gede-Pangrango. Kabut tipis terbang melayang-layang dengan anggun diatas permukaan air. Suara serangga hutan terdengar seakan bernyanyi menyambut pagi.

WP_20141030_12_22_33_Pro_wm

Tidak sendirian saya menikmati keindahan yang tersaji. Beberapa muda-mudi juga turut asyik menikmati suasana dan keindahan Situ Gunung. Alunan suara gitar dan nyanyian terdengar dari para pemuda di depan tenda yang mereka dirikan. Asap tipis bekas perapian perlahan menghilang ke udara. Ingin rasanya bisa seperti mereka, menikmati suasana yang tenang dan damai di Situ Gunung di kala malam.

WP_20141030_11_08_31_Pro_wm

Terlihat dua buah perahu tertambat di pinggiran situ. Sayangnya satu perahu kondisinya rusak dan sebagian dari tubuhnya tenggelam. Terdapat sampan bambu yang bersandar disamping perahu. Tidak terlihat seseorang sebagai pemilik perahu maupun sampan tersebut. Mungkin karena bukan di hari libur, dimana pengunjung tidak terlalu ramai. Padahal saya ingin berkeliling Situ Gunung menikmati keindahannya.

WP_20141030_11_20_19_Pro_wm

Ukuran Situ Gunung tidak terlalu luas, tidak seluas Situ Patenggang di Bandung. Dengan kondisi alam yang masih asri dengan hutan lebat di sekelilingnya, Situ Gunung memiliki keindahan tersendiri. Keindahan yang membuat kita betah menikmati pemandangan dan suasananya. Memang paling pas saat suasana Situ Gunung tidak terlalu ramai pengunjung, sehingga kita bisa lebih merasakan ketenangan dan kedamaiannya.

WP_20141030_11_18_44_Pro_wm

Hari beranjak siang, sinar matahari terhalang oleh awan mendung hitam di atas Situ Gunung. Kabut masih terus menyelimuti perbukitan dan hutan lebat di lereng Gunung Gede-Pangrango. Dan rintik hujan pun mulai turun membasahi Situ Gunung. Saya pun berlari meninggalkan pinggiran situ menuju sebuah bangunan beratap seng yang terlihat rusak. Udara dingin mendadak menyelimuti tubuh saya.

WP_20141030_11_19_04_Pro_wm

Tidak lama hujan deras pun mulai reda. Menyisakan rintik-rintik kecil air hujan. Mendung hitam masih menggantung di atas Situ Gunung. Siap memuntahkan kembali air hujan yang masih tersisa. Tak terasa sudah sekitar dua jam saya habiskan untuk menikmati keindahan Situ Gunung. Saya memutuskan untuk beranjak pergi sebelum hujan deras kembali turun.

Saya berjalan kembali menyusuri jalanan berbatu yang basah dan sedikit licin karena hujan. Sampai di gerbang masuk Situ Gunung, sedikit bingung karena tidak ada angkutan untuk turun menuju Cisaat. Saya dikasih saran oleh ibu pemilik warung kopi untuk berjalan turun menuju lapangan desa. Karena kalo tidak hari libur angkot hanya sampai di tempat tersebut.

WP_20141030_12_04_06_Pro_wm

Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa berjalan kaki kembali menuju lapangan desa yang jaraknya lumayan jauh. Beruntung ditengah jalan ada penampakan angkot berjalan menuju ke arah saya dan berhenti menurunkan penumpang terakhir. Sang sopir langsung menawari saya untuk ikut turun kembali menuju Cisaat. Tawaran yang tidak mungkin saya tolak.

Rasa penasaran saya pun terobati ketika bisa berkunjung dan melihat langsung keindahan Situ Gunung. Keindahan yang sebelumnya hanya saya dengar dan saya baca. Keindahan yang membuat saya ingin kembali, terlebih saya belum sempat melihat Curug Sawer. Tidak salah bila Situ Gunung menjadi salah satu ikon wisata andalan Sukabumi. Tempat wisata yang memang pantas untuk dikunjungi.

Advertisements

Tags: , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Trackbacks / Pingbacks

  1. Ujung Genteng…Melihat Keindahan Curug Cikaso (I) | MITRANQUIL - December 24, 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: