Ada Situ Sangkuriang di Lembang

wp_20141028_13_42_09_pro_wm

” Situ Sangkuriang “

Bandung, mendengar kata Bandung saya selalu terkenang masa-masa menuntut ilmu di kota tersebut. Selama kurang lebih 5 tahun saya tinggal di kota tersebut, banyak pengalaman suka maupun duka yang saya rasakan, yang membuat saya selalu ingin kembali. Kota yang akan memikat siapapun dengan pesonanya.

Bulan Oktober 2014, merupakan bulan kedua saya resmi menyandang status baru sebagai pengangguran. Kejenuhan aktifitas sebagai pengangguran di Jakarta, membuat saya memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabat lama saya di Bandung. Sekedar melepas rindu setelah lama tak bertemu. Sahabat dekat dari sejak duduk di bangku SMA yang kebetulan sama-sama merantau ke Bandung.

Dingin pagi di akhir bulan oktober merambati tubuh saya yang meringkuk di tempat tidur. Selimut serasa tidak mampu menahan rasa dingin yang datang. Kabut tipis melayang-layang seakan turun dari puncak Gunung Manglayang. Lokasi komplek rumah teman saya memang berada di lereng pegunungan utara Bandung di daerah Ujungberung bagian atas.

Hangatnya teh manis menemani pagi saya di teras rumah. Menikmati sejuknya udara pagi bersama teman saya. Kami habiskan waktu pagi dengan bersenda gurau sampai matahari tak terasa mulai meninggi. Dari obrolan kami, tercetus rencana untuk sekedar jalan-jalan santai menikmati pemandangan Bandung. Kami sepakat untuk pergi ke daerah Lembang melalui jalur alternative Ujungberung. Walaupun sudah lama tinggal di Bandung kami belum pernah sama sekali melalui jalur ini.

Bermodalkan peta di handphone, motor kami arahkan menuju Jalan Cigending. Jalan ini merupakan jalan alternative menuju ke daerah Lembang dan akan tembus di daerah Maribaya. Jalan ini tepat berada di belakang alun-alun atau pasar Ujungberung. Kondisi jalan tidak terlalu lebar dan semakin mengarah ke utara jalannya semakin menanjak. Setelah melalui Desa Palintang, perjalanan akan melewati area hutan pinus.

WP_20141028_13_45_15_Pro_wm

Memasuki area hutan pinus yang berada di kawasan lereng Gunung Palasari, udara segar pegunungan mulai terasa. Panas sinar matahari terhalang oleh teduhnya naungan pohon-pohon pinus di sepanjang jalan. Daun pinus kering berguguran berserakan di jalan. Di area ini kondisi jalan mulai rusak dan berkelok-kelok, aspal menghilang hanya tersisa jalan batu dan tanah merah.

Setelah melewati area hutan pinus, perjalanan memasuki area perkebunan kopi dan kina. Dengan kodisi jalan tetap berkelok-kelok dan rusak. Sinyal handphone mulai timbul tenggelam. Kalo kita tengok ke sebelah kanan jalan, terlihat berdiri dengan kokoh Gunung Bukittunggul yang merupakan gunung tertinggi di kawasan pegunungan utara Bandung.

WP_20141028_13_56_34_Pro_wm

Di pertengahan jalan kami melewati sebuah pertigaan. Disebuah tebing tanah di sebelah kanan jalan terpasang papan kayu bertuliskan “Selamat Datang Wisata Kebun Kina Bukittunggul”. Setelah berhenti sejenak, karena penasaran kami memutuskan untuk belok menuju kawasan wisata tersebut. Mengubah haluan kami yang awalnya hendak menuju Lembang melalui Desa Cibodas dan Maribaya.

Sampai di pintu masuk seorang penjaga pos datang menghampiri, kami langsung bertanya karena penasaran dengan wisata yang ada di tempat tersebut. Ternyata di dalam terdapat situ (telaga), air terjun, tempat outbond dan juga tempat camping. Disebelah kanan pos terdapat jalan berbelok ke kanan menuju sebuah bangunan besar, penjaga pos memberitahu bangunan tersebut adalah pabrik pengolahan biji kina.

WP_20141028_14_00_30_Pro_wm

Kami memasuki area wisata setelah membayar tiket masuk Rp.5000 per orang. Kami melewati kandang rusa dan langsung menuju ke situ (telaga) mengikuti arah dari papan penunjuk jalan. Jalan menuju situ kondisinya berbatu dan menurun melewati sebuah lapangan luas yang merupakan tempat untuk camping. Tidak lama kami akhirnya sampai di sebuah situ (telaga) yang bernama “Situ Sangkuriang”.

Suasana sepi, itu yang saya rasakan begitu menjejakkan kaki di pinggiran situ. Tempat yang cocok bagi yang ingin mencari ketenangan. Ukuran situ tidak begitu luas dan kelihatannya merupakan situ buatan karena di salah satu sisinya dibuat seperti bendungan (dam) yang airnya dialirkan melalui sungai kecil dibawahnya. Warna airnya hijau kecoklatan mungkin karena tanah dan tumbuhan air yang tumbuh didalamnya.

WP_20141028_14_01_37_Pro_wm

Pohon kina mendominasi tumbuhan di sekeliling situ, karena memang lokasi wisata ini terletak di tengah perkebunan kina. Jalan setapak dibuat mengelilingi situ dengan tanaman hias di tanam di sekitarnya. Beberapa bangku yang terbuat dari bambu terlihat di pinggiran situ, menjadi tempat yang pas untuk duduk menikmati suasana. Sebuah gazebo besar dari bambu jg dibangun di salah satu sudut situ.

Kita bisa turun ke bagian bawah situ melalui jalan setapak. Tepatnya berada di sisi situ yang berupa bendungan (dam). Kita akan menemukan sebuah jembatan unik yang terbuat dari bambu. Di ujung jembatan terdapat jalan setapak dan papan kayu yang bertuliskan “Turbin Batu”, mungkin semacam kincir air. Kami tidak sempat untuk melihatnya.

WP_20141028_14_06_16_Pro_wm

Suasana yang sepi dan tenang membuat saya betah untuk berlama-lama di Situ Sangkuriang. Rasanya ingin suatu hari nanti bisa menikmati suasana penuh kedamaian melewati dinginnya malam di dalam tenda di pinggiran situ. Menjadi tempat yang pas buat menghindar sejenak dari penatnya rutinitas kerja dan semrawutnya suasana ibukota. Udara yang segar membantu otak tercuci dari segala polusi.

Setelah puas mengabadikan beberapa foto, kami beranjak meninggalkan Situ Sangkuriang. Ada pemandangan menarik saat kami hendak pergi, yaitu sepasang bocah laki-laki yang salah satunya sedang memegangi sebuah bambu panjang yang menjulur kedalam situ sedang bocah satunya memegangi ujung bambu sambil menyelam ke dalam situ. Kami mendekati kedua bocah tersebut karena penasaran. Ternyata mereka sedang mencari semacam keong yang banyak terdapat di dalam situ.

WP_20141028_14_10_44_Pro_wm

Gunung Bukittunggul yang tidak bisa dilepaskan dari legenda besar tatar sunda yaitu tentang kisah Sangkuriang. Mempunyai potensi tersendiri untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata di Bandung, salah satunya Wisata Kebun Kina ini. Menjadikan pilihan alternative tujuan wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Dengan ditunjang perbaikan infrastuktur jalan, saya yakin wisata ini akan dapat berkembang.

Saat matahari mulai meninggi, kami beranjak pergi meninggalkan ketenangan yang kami nikmati. Pemandangan indah ditengah kebun kina dan sebuah situ kecil berlatar belakang Gunung Bukittunggul yang syarat akan legenda. Mampu memberikan kesejukan dan kedamaian yang kami cari. Dalam hati saya berujar bahwa suatu hari nanti saya harus kembali.

 

 

Tags: , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Trackbacks / Pingbacks

  1. Kabut Pagi Situ Gunung | MITRANQUIL - December 22, 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: