Secuil Surga Di Ujung Kulon

WP_20140906_15_06_22_Pro_wm

” Berkunjung Ke Ujung Kulon “

Bulan september 2014 adalah bulan dimana saya memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerja saya di sebuah bank swasta di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Perpanjangan kontrak yang ditawarkan tidak menarik lagi bagi saya yang lebih memilih untuk mengakhiri petualangan saya selama lebih dari 2 tahun bekerja di tempat tersebut. Kenyamanan dalam bekerja sudah tidak lagi saya dapatkan, sehingga membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya.

Dengan menyandang status baru sebagai pengangguran, berarti saya bebas memiliki waktu untuk bersenang-senang menikmati masa-masa bebas dari urusan kerja. Liburan menjadi kegiatan yang saya rasa wajib dilakukan. Sekitar seminggu sebelum tanggal kontrak berakhir, saya memutuskan untuk menjadi peserta sebuah ajakan open trip yang saya baca di salah satu forum komunitas online terbesar di Indonesia. Ajakan open trip untuk menikmati keindahan ujung barat Pulau Jawa yaitu Taman Nasional Ujung Kulon.

WP_20140906_07_13_12_Pro_wm

” Di sekitar pelabuhan nelayan Kecamatan Sumur “

Selang dua hari selepas tanggal kontrak saya berakhir, tepatnya hari jumat tanggal 5 september 2014. Saya sudah siap berada di titik kumpul di daerah Slipi sekitar jam 5 sore. Selepas magrib satu persatu wajah peserta open trip mulai nampak dan sang ketua trip hadir dengan membawa kotak-kotak besar berisikan peralatan snorkling. Karena ada kendala pada bus sewaan, Sekitar jam 9 malam kami baru berangkat menuju daerah Sumur di Pandeglang. Sumur bisa disebut sebagai pintu gerbang menuju Ujung Kulon.

WP_20140907_13_22_12_Pro_wm

” Kapal-kapal yang berhenti melaut “

Bus melaju dengan tenang, menembus malam. Saya pun terlelap diiringi sayup alunan lagu. Terbangun sesaat ketika bus mulai terguncang hebat melewati jalanan yang berbatu dan berlubang. Pemandangan di luar terlihat gelap gulita. Sepertinya bus memasuki daerah hutan menuju ke arah Sumur. Saya terlelap kembali dan terbangun ketika bus berhenti di depan sebuah masjid dengan suara adzan subuh berkumandang. Panggilan Tuhan untuk melaksanakan kewajiban.

Selesai menunaikan sholat subuh, bus kembali melaju. Sekitar jam 05.30, bus sampe di pelabuhan nelayan dan kami diturunkan di depan kantor desa. Suasana pelabuhan sudah ramai oleh aktifitas warga. Selain pelabuhan di tempat ini juga menjadi pasar untuk jual beli ikan hasil tangkapan nelayan. Pasar kecil yang terlihat sederhana, dengan puluhan kapal nelayan tertambat dengan tenang di sekitar pelabuhan. Kami pun menunggu sampai kapal yang mengantar kami menuju Ujung Kulon siap untuk berangkat.

WP_20140906_07_31_10_Pro_wm

” Hilir mudik kapal di dekat pelabuhan Sumur “

Begitu kapal siap, kami menggunakan bantuan perahu motor menuju ke kapal. Karena tidak adanya dermaga yang menjorok ke tengah laut, kapal tidak memungkinkan untuk merapat ke daratan. Sekitar jam 07.00 pagi, kapal pun berangkat membelah lautan. Matahari bersinar dengan cerah, membuat warna biru air laut terlihat begitu indah. Dikejauhan terlihat bentang alam disekitar kawasan Ujung Kulon berupa perbukitan hijau yang masih asri. Membuat pagi di daerah Sumur terasa begitu dingin.

WP_20140907_13_18_36_Pro_wm

” Pulau Umang yang dijadikan kawasan resort “

Tak jauh dari pelabuhan Sumur terdapat sebuah pulau kecil yang terkenal sebagai resort mewah. Pulau tersebut bernama Pulau Umang. Sebuah pulau yang sudah dikomersilkan dan dijadikan resort untuk menarik wisatawan. Dari pelabuhan pun pulau ini sudah bisa terlihat, dengan sebuah bangunan yang berbentuk membulat seperti kubah berwarna putih, terlihat dengan jelas dari kejauhan. Bangunan tersebut terlihat berbentuk seperti kerang. Kapal kami hanya numpang lewat di dekat pulau tersebut.

WP_20140906_08_14_50_Pro_wm

” Pulau Badul “

Satu jam telah berlalu, kapal berjalan membelah laut biru. Laju kapal pun melambat dan berhenti di dekat sebuah pulau kecil yang cantik. Pulau yang terlihat seperti gundukan pasir berwarna coklat ditengah lautan dengan sedikit tumbuhan liar tumbuh ditengah pulaunya. Pulau ini bernama Pulau Badul. Pulau yang sudah direncanakan menjadi tempat kami bersnorkling ria menikmati keindahan bawah lautnya. Ini merupakan spot pertama kami dalam trip ini.

Tapi sayang, saya hanya bisa melihat teman yang lain bersenang-senang menikmati keindahan bawah laut Pulau Badul dari atas kapal. Kondisi gelombang laut selepas kapal meninggalkan pelabuhan Sumur lumayan besar, kapal pun beberapa kali terguncang hebat. Rasa mual tak terelakkan lagi menyerang saya, ditambah kepala yang terasa pusing. Membuat saya malas untuk terjun ke laut bersnorkling bersama teman-teman yang lain. Cukup menikmati pemandangan indah di sekitar Pulau Badul.

WP_20140906_10_25_42_Pro_wm

” Pulau Handeuleum “

Setelah acara snorkling usai, spot tujuan selanjutnya adalah menuju Pulau Handeuleum. Saya dengan tetap menahan sedikit rasa mual, sudah bersiap untuk merasakan kembali guncangan gelombang laut. Benar saja begitu kapal meninggalkan Pulau Badul, tidak lama gelombang kembali menggila. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Pulau Handeuleum. Gelombang pun kembali bersahabat mendekati pulau. Sekitar jam 10 pagi, kapal pun merapat di dermaga Pulau Handeuleum.

WP_20140906_10_14_13_Pro_wm

” Mendarat di Pulau Handeuleum “

Pulau Handeuleum ini terletak di sebelah timur laut semenanjung Ujung Kulon dan merupakan pulau karang terbesar diantara pulau-pulau karang lain disekitarnya. Begitu mendarat di pulau tidak akan melihat hamparan pasir putih hanya terlihat batuan karang kecil di pinggir pantainya. Karena merupakan area taman nasional, kondisi pulau masih terjaga dengan baik keasriannya. Kesan liar masih terbungkus dengan baik, karena di pulau ini masih berkeliaran binatang-binatang seperti rusa, buaya, ular, dan badak.

WP_20140906_10_22_26_Pro_wm

” Hamparan batuan karang di sekitar pantai Pulau Handeuleum “

Saya menginjakkan kaki di pulau yang bertebaran batuan karang kecil dibawah kaki saya. Mencoba melihat lebih ke dalam suasana pulau. Tepat di depan dermaga begitu memasuki pulau, disambut sebuah tulisan besar ‘Pulau Handeuleum’. Tidak perlu berjalan jauh ke dalam pulau, di belakang tulisan tersebut saya sudah bisa melihat langsung beberapa ekor rusa dengan tanduknya yang cantik sedang asik bermain dengan kawanannya. Ini merupakan pengalaman pertama saya bisa melihat rusa di alam liar.

Jangan terlalu berharap bisa melihat badak di pulau ini, cukup lah bisa melihar rusa di alamnya yang liar. Rusa disini tidak takut akan kedatangan wisatawan, jadi bisa melihat dan berfoto lebih dekat dengan mereka. Tapi jangan sekali-kali mengganggu mereka. Tumbuhan di pulau ini masih lebat dan rapat karena masih terjaga dengan baik, akan lebih menarik bila bisa mengexplore lebih jauh ke dalam pulau menyusuri jalan setapak. Tidak lama saya menikmati Pulau Handeuleum, trip pun berlanjut ke spot berikutnya.

WP_20140906_10_40_01_Pro_wm

” Sisi lain Pulau Handeuleum “

Tidak terlalu jauh dan masih menjadi bagian dari Pulau Handeuleum, spot berikutnya ini sangat menarik yaitu muara Sungai Cigenter. Salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Ujung Kulon. Disini kita akan mendapatkan pengalaman baru yang seru, yaitu menyusuri sungai menggunakan perahu kayu kecil. Biasa disebut dengan canoing. Kita harus mendayung sendiri perahu kecil tersebut menyusuri sungai masuk ke dalam pulau melewati hutan liar yang menjadi rumah bagi badak bercula satu.

WP_20140906_10_41_44_Pro_wm

” Menggunakan perahu motor menuju muara Sungai Cigenter “

Kapal tidak bisa merapat ke daratan pulau, diperlukan bantuan perahu motor yang akan membawa wisatawan mendarat di pantainya. Perahu motor ini di kemudikan oleh penjaga pulau yang biasa disebut dengan ‘Ranger’. Dengan bantuan Perahu motor tersebut saya menginjakkan kaki di daratan pulau dengan pasir pantainya yang berwarna kecoklatan. Mendarat tepat di depan muara Sungai Cigenter. Beberapa perahu kayu terlihat sudah berjajar rapi di tepi sungai, siap untuk digunakan mengarungi alam liar Sungai Cigenter.

WP_20140906_11_04_35_Pro_wm

” Hutan yang masih liar sepanjang aliran Sungai Cigenter “

Bersama empat orang teman trip, saya menaiki salah satu perahu kayu. Mendayung perahu membelah aliran sungai yang tenang dengan warna airnya yang hijau mirip dengan aliran Sungai Cijulang di Green Canyon, Pangandaran. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya dan sensasi yang saya rasakan luar biasa. Mengarungi sungai ditengah pulau dengan alamnya yang masih liar dan terjaga dengan baik keasriannya. Serasa memasuki Hutan Amazon seperti yang sering saya lihat di televisi.

Mengarungi Sungai Cigenter berharap bisa melihat seekor badak ditepian sungainya, tapi harapan itu sepertinya sulit terwujud. Jumlah populasi badak di Taman Nasional Ujung Kulon hanya tinggal beberapa puluh ekor saja. Masuk jauh ke dalam hutan dengan berjalan kaki seharian pun belum tentu bertemu dengan mereka. Saya hanya bisa melihat beberapa jejak kaki mereka di tepian Sungai Cigenter, itu sudah merupakan sebuah keberuntungan. Selain badak, buaya pun juga tidak nampak batang hidungnya.

WP_20140906_11_53_11_Pro_wm

” Muara Sungai Cigenter “

Patahan batang pohon sesekali menghambat laju perahu kami, tapi kami masih mampu melewatinya. Hingga akhirnya bertemu dengan patahan kayu besar yang melintang di tengah sungai menjadi penghambat kami untuk lebih jauh mengarungi Sungai Cigenter. Patahan tersebut sulit untuk dilewati sehingga membuat kami mengakhiri pengarungan Sungai Cigenter dan kembali ke muara. Walaupun sedikit menyisakan rasa kecewa, tapi yang terpenting saya sudah mendapatkan pengalaman baru di Cigenter.

WP_20140906_14_04_02_Pro_wm

” Merapat di Pulau Peucang “

Dengan menggunakan bantuan perahu motor kami meninggalkan Muara Cigenter dan Pulau Handeuleum untuk kembali menuju kapal. Meninggalkan keliaran alamnya yang masih terjaga dan semoga terus terjaga untuk kelangsungan hidup satwa-satwa yang dilindungi terutama badak yang diambang kepunahan. Deru mesin kapal kembali meraung, kapal pun melaju kembali membelah lautan biru menuju Pulau Peucang. Pulau yang akan menjadi tempat peristirahatan kami di Ujung Kulon.

Pulau Peucang merupakan pulau yang paling ramai dikunjungi wisatawan, dengan sarana dan prasarana yang sudah memadai. Butuh waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dari Pulau Handeuleum untuk menuju ke Pulau Peucang. Dalam perjalanan kami sempat merasakan nikmatnya makan siang di atas kapal yang berjalan. Sekitar jam 2 siang kapal merapat di dermaga Pulau Peucang. Beberapa kapal dari rombongan lain terlihat sudah tertambat dengan tenang di dermaga.

WP_20140906_15_08_36_Pro_wm

” Dermaga Pulau Peucang “

Begitu kapal merapat di dermaga Pulau Peucang. Terlihat hamparan pasir putih yang cantik membentang di sepanjang pantainya. Rimbunan pohon besar yang rindang seakan berbaris, bersiap menyapa pengunjung yang memasuki pulaunya. Diseberang pulau terlihat bentang alam daratan utama Taman Nasional Ujung Kulon yang berbukit-bukit dengan lebatnya hutan liar yang masih terjaga keasriannya. Warna hijau mendominasi sepanjang mata memandang bertemu dengan warna birunya lautan.

WP_20140906_15_28_12_Pro_wm

” Kapal tertambat di dermaga “

Memasuki Pulau Peucang rindang pepohonan menyambut dengan ramah. Panasnya matahari selama perjalanan di lautan berganti dengan teduhnya yang menyejukkan. Di dalam pulau terdapat fasilitas penginapan berupa bangunan barak yang terbuat dari kayu. Bentuknya memanjang seperti rumah panggung. Bersama rombongan saya langsung menuju salah satu barak yang sudah disiapkan. Kami menempati barak dengan 4 buah kamar yang lumayan besar.

wp_20140906_16_33_30_pro_wm

” Salah satu barak di Pulau Peucang “

Di sekitar barak terlihat berkeliaran dengan bebas hewan-hewan penghuni pulau. Beberapa monyet kecil asik melompat-lompat dari pohon ke pohon, terkadang menghampiri ke dekat barak menunggu dilempar makanan. Kawanan babi hitam atau celeng, mendengus-dengus dan mengorek-ngorek makanan di tanah. Sedang kawanan rusa asik merumput di sebuah halaman luas yang penuh rerumputan hijau. Sebuah pemandangan langka yang jarang saya jumpai.

wp_20140906_15_35_18_pro_wm

” Pemandangan dari Pulau Peucang “

Satu jam berlalu saya habiskan untuk berbaring di dalam barak, mengembalikan kondisi fisik setelah disiksa oleh gelombang yang serasa mengaduk perut dan menggoyang kepala. Sinar matahari sore muncul dengan hangatnya, memanggil saya untuk keluar barak menikmati keindahan karya tuhan di Pulau Peucang. Berjalan di atas pasir putih yang lembut dan rindang pohon, saya menuju ke tepian pantai merasakan lebih dekat sentuhan air laut membasahi kaki saya.

wp_20140906_15_42_02_pro_wm

” Jernihnya air dan birunya yang menggoda “

Suasana riang gembira terlihat dari wajah-wajah peserta  trip, rasa bahagia seperti menghinggapi di dalam diri mereka. Mungkin kejenuhan akan aktifitas kerja di ibukota, terlepaskan kala mereka membaur di birunya air laut Pulau Peucang. Tawa canda mereka riuh terdengar, lepas bebas tak ada tanda kesedihan di wajah mereka. Seperti juga diri saya serasa lepas dari beban kerja yang menyiksa. Bebaskan diri di alam liar, menikmati segala keindahan yang disajikan di depan mata. Secuil surga dari tuhan semesta.

wp_20140906_15_43_42_pro_wm

” Membaur bersama pasir putih dan biru air laut “

wp_20140906_15_44_54_pro_wm

” Keindahannya tak terlupakan “

Matahari sore semakin lama condong ke arah barat, cerah langit sore mulai meredup. Bersiap menuju ke satu tempat untuk menikmati tenggelamnya sang surya ke peraduannya. Begitu rombongan sudah berkumpul di dermaga, dengan menggunakan kapal kami berangkat menuju Karang Copong. Menikmati jingga senja sang surya dari atas kapal. Selain menggunakan kapal, untuk menuju Karang Copong bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau treking melalui jalan setapak menyusuri hutan liar Pulau Peucang.

wp_20140906_17_25_02_pro_wm

” Menuju Karang Copong “

Warna jingga semakin terlukis dengan jelas di langit sore. Bulatan kuning matahari pun terlihat semakin cantik. Kami sampai di Karang Copong sekitar jam 5 sore. Waktu yang tepat untuk menunggu dan melihat sang surya perlahan tenggelam di ujung langit. Karang Copong merupakan jajaran batu karang yang terdapat di salah satu sisi dari daratan Pulau Peucang. Terlihat batu-batu karang dengan ukuran raksasa. Karang Copong mempunyai arti karang yang bolong.

wp_20140906_17_46_46_pro_wm

” Karang Copong…Karang yang bolong “

wp_20140906_17_44_39_pro_wm

” Batu karang raksasa di Karang Copong “

Hampir satu jam kami menikmati tenggelamnya sang surya dari atas kapal. Perlahan-lahan tenggelam di batas langit. Semburat jingga bercampur birunya langit semakin mempercantik kanvas alam lukisan tuhan. Gumpalan-gumpalan awan putih turut meramaikan pamandangan indah yang tersaji. Perairan yang tenang di sekitar Karang Copong menambah nikmatnya suasana seakan tidak ingin berakhir. Begitu matahari tenggelam dan tak tampak lagi bulat wajah jingganya, kami kembali ke dermaga Peucang.

wp_20140906_17_46_41_pro_wm

” Sekitar Karang Copong “

wp_20140906_17_51_43_pro_wm

” Senja jingga sang surya tenggelam “

Malam berlalu tanpa banyak hal yang bisa saya ceritakan, sekedar menikmati dinginnya malam di atas dermaga Peucang sambil berbincang hangat dengan sesama peserta trip. Botol-botol minuman dan makanan kecil  menjadi teman setia kami melalui malam dalam perbincangan akrab. Tak terasa malam pun berganti pagi, dinginnya udara pagi serasa menusuk tulang. Pengalaman pertama saya berada di sebuah pulau dengan udara pagi yang begitu dingin seakan sedang berada di Puncak Bogor atau Lembang Bandung.

wp_20140907_07_11_36_pro_wm

” Dermaga Cidaon “

Disaat matahari masih malu-malu untuk menunjukkan wajahnya di ufuk timur. Sekitar jam 6 pagi kami sudah bersiap berkumpul di dermaga Peucang. Kapal akan membawa kami menyebrang ke daratan utama Ujung Kulon untuk menuju ke padang penggembalaan Cidaon. Menyaksikan secara langsung hewan-hewan penghuni Ujung Kulon berkumpul bersama kawanannya di alam liar. Tidak butuh waktu lama untuk kapal kami merapat di dermaga Cidaon.

wp_20140907_07_06_06_pro_wm

” Bersiap memasuki hutan Cidaon “

wp_20140907_07_05_46_pro_wm

” Merapat di dermaga Cidaon “

Begitu menginjakkan kaki di dermaga Cidaon, kami langsung menuju ke padang penggembalaan Cidaon. Dengan mengikuti jalan setapak menyusuri hutan lebat yang masih asri. Suasana hutan basah dan bau tanah yang khas langsung terasa begitu memasuki hutan. Hanya butuh waktu beberapa menit dari dermaga untuk sampai ke padang penggembalaan. Sebuah saung kecil dan menara pandang yang tinggi menjulang langsung menyambut kedatangan kami.

wp_20140907_06_29_28_pro_wm

” Pemandangan dari atas menara pandang “

Di depan mata tersaji indah hamparan padang rumput yang luas terbentang. Warna hijau mendominasi sepanjang mata memandang. Lebatnya hutan yang mengelilingi padang rumput terlihat seperti sebuah pagar hidup. Dengan menaiki menara pandang sampai tingkat paling atas, pemandangan akan terlihat jauh lebih indah. Menyusuri tiap sudut dari padang penggembalaan Cidaon. Sebuah pemandangan yang jarang kita bisa temukan ditempat lain. Pemandangan alam liar dengan padang rumput seperti di hutan Afrika.

wp_20140907_06_35_59_pro_wm

” Kawanan banteng liar sedang merumput “

Menjejakkan kaki dan berjalan di hamparan rerumputan hijau padang penggembalaan terasa seperti sedang memasuki suatu tempat yang asing. Saya terpesona melihat kawanan banteng liar merumput dengan tenang di kejauhan. Di pagi itu hanya kawanan banteng yang terlihat, entah kemana hewan penghuni Ujung Kulon yang lainnya. Kawanan banteng liar tersebut seakan tidak terganggu dengan kehadiran kami saat kami mendekat untuk mengambil foto, mengabadikan moment merumput mereka.

wp_20140907_07_04_49_pro_wm

” Pesisir pantai Cidaon “

Meninggalkan padang penggembalaan Cidaon berarti mengakhiri petualangan kami di Ujung Kulon. Sesuai kesepakatan Cidaon merupakan spot terakhir yang kami kunjungi untuk mengejar waktu agar tidak kemalaman sampai di Jakarta. Mengingat sebagian besar peserta trip akan melanjutkan aktifitas sebagai pekerja kantoran keesokan harinya. Dari Cidaon kami kembali ke Pulau Peucang untuk mempersiapkan diri meninggalkan Ujung Kulon, tidak lupa menikmati sejenak santapan pagi yang sudah siap dihidangkan.

wp_20140907_08_58_36_pro_wm

” Babi hitam penghuni Pulau Peucang “

Pulau Peucang dan semua yang ada di Ujung Kulon akan selalu terkenang. Sebuah petualangan yang memberikan pengalaman baru bagi saya, menikmati pesona alam yang masih terjaga keasriannya dan melihat secara langsung hewan-hewan liar di alamnya membuat saya begitu takjub. Sebuah tempat yang dari dulu ingin saya kunjungi namun selalu urung karena kabar mengenai endemik malaria yang mungkin bisa menyerang ketika berkunjung kesana.

wp_20140907_13_02_45_pro_wm

” Keramba apung “

Tanpa rasa kecewa saya bersama rombongan peserta trip meninggalkan Pulau Peucang dan Ujung Kulon kembali ke pelabuhan Sumur. Waktu jua yang memisahkan kami dengan Ujung Kulon. Membawa semua pengalaman dan kenangan di tempat yang indah ini. Foto-foto yang terabadikan menjadi sesuatu yang berharga. Menjadi cenderamata yang bisa dinikmati di esok hari.

Perjalanan 4 jam menuju dermaga sumur kami lewati dengan guncangan ombak yang memabukkan. Sekitar jam 2 siang kapal merapat di pelabuhan nelayan Sumur dan petualangan saya pun resmi berakhir. Kembali pulang menuju Jakarta dan bersiap lagi untuk petualangan selanjutnya yang sudah saya persiapkan. Petualangan yang saya yakin tidak kalah seru dari Ujung Kulon. Mengunjungi surga lainnya di Bumi Indonesia.

wp_20140907_13_21_02_pro_wm

” Kapal yang unik di Pelabuhan Sumur “

Advertisements

Tags: , , , , , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: