Menikmati Rancabali

WP_20140621_13_19_16_Pro_wm

” Kebun Teh Rancabali “

Kejenuhan akan rutinitas kerja, membuat saya ingin melepaskan diri sejenak menghirup udara segar pegunungan. Otak serasa keruh akan beban pekerjaan yang rasanya tak ada habisnya. Kebetulan dan sangat jarang terjadi, kantor saya memberi libur di hari sabtu. Sesuatu yang sangat saya syukuri. Seakan tuhan mengabulkan doa saya, mengijinkan saya untuk melihat dan menikmati keindahan alam ciptaannya.

Bandung langsung menjadi tujuan saya. Kota yang sudah menjadi bagian hidup saya, karena di kota ini lah tampat perantauan pertama saya sejak meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan. Setelah berkoordinasi dengan teman baik saya, yang merupakan teman satu kampus dan juga satu kost semasa kuliah. Saya berangkat dari Jakarta menuju Bandung menggunakan jasa travel, selepas pulang kerja.

WP_20140621_13_19_40_Pro_wm

” Batu yang menjadi lokasi favorit untuk berfoto “

Dinginnya udara pagi membangunkan saya dari lelapnya tidur. Sesuatu yang sudah jarang saya rasakan ketika tinggal di Jakarta. Sesuai rencana yang sudah saya sepakati dengan teman saya, kami sepakat untuk mengunjungi daerah Bandung Selatan tepatnya daerah Rancabali. Lokasi yang saya rasa tepat untuk menghirup udara segar dan melihat keindahan alam pegunungan dengan kebuh-kebuh teh yang indah.

Karena kelamaan bermalas-malasan, kami berangkat kesiangan sekitar jam 12 siang tanggal 21 Juni 2014. Kami berangkat bertiga dengan dua motor, karena ada satu lagi teman saya yang ikut serta. Perjalanan dari Bandung menuju Rancabali kami lalui dengan lancar, melalui daerah Bojongsoang, Banjaran dan Soreang. Mendung hitam terus menggantung di langit Bandung, tinggal menunggu waktu memuntahkan air hujan.

Memasuki Kecamatan Ciwidey, perjalanan kami lanjutkan menuju ke arah Kawah Putih. Mendung semakin tebal dan rintik hujan mulai berjatuhan saat kami melewati daerah hutan sebelum gerbang Kawah Putih. Benar saja, sesaat setelah sampai di depan gerbang Kawah Putih hujan deras seakan dimuntahkan dari langit. Kami mengamankan diri di sebuah warung di area parkir bus, tepat di seberang Rumah makan De Foret.

WP_20140621_13_22_00_Pro_wm

” Pemandangan hijau menyejukkan mata “

Selepas hujan berhenti dan mendung sedikit menghilang. Kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah Rancabali. Melewati gerbang Ranca Upas dan Pemandian Cimanggu. Setelah melewati kawasan Pemandian Walini, tepat di sebuah belokan terlihat hamparan hijau kebun teh yang menyejukkan mata. Kami pun langsung menepikan motor. Lokasi ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk mengambil foto. Ada sebuah batu besar di tengah kebun teh, kami langsung menuju batu tersebut dan memanjat ke atas batu.

Pemandangan dari atas batu sungguh indah, mata serasa dimanjakan dengan keindahannya. Pemandangan yang sudah jarang sekali saya lihat. Walaupun semasa kuliah dulu saya sudah beberapa kali berkunjung, tapi seakan tidak ada bosannya untuk mampir sejenak menikmati pemandangan di tempat ini. Hamparan hijau tanaman teh dengan bukit-bukitnya ditambah kabut tipis yang melayang-layang menambah keindahan pemandangan yang disajikan.

WP_20140621_13_46_43_Pro_wm

” Gerbang masuk Situ Patenggang “

Perjalanan berlanjut menuju sebuah tempat wisata yang sudah sangat populer di mata wisatawan, yaitu Situ Patenggang. Setelah melewati jalanan berkelok-kelok di perkebunan teh Rancabali, kami sampai di gerbang masuk Situ Patenggang sekitar jam 2 siang. Mendung hitam masih terus menggantung di atas langit, seakan enggan untuk pergi. Setelah membayar tiket dan memasuki gerbang, kami berhenti di sebuah tempat dengan pemandangan yang indah, di tempat ini kami bisa melihat Situ Patenggang dari atas.

WP_20140621_13_50_02_Pro_wm

” Melihat Situ Patenggang dari atas “

Pemandangan yang disajikan sungguh indah. Terlihat danau yang luas dengan permukaan airnya yang tenang dikelilingi hijaunya kebun teh dan lebatnya pepohonan di seberang danau yang seperti hutan. Jajaran pohon pinus terlihat disebuah daratan yang menjorok ke tengah danau, sungguh pemandangan yang indah. Akan lebih indah bila cuaca cerah tak ada mendung hitam yang menggantung di langit.

WP_20140621_14_45_38_Pro_wm

” Salah satu sudut Situ Patenggang “

Hujan deras pun akhirnya tertumpah dari langit, kami yang tidak siap harus rela berbasah-basah ria menuju parkiran motor dan langsung mengamankan diri dari derasnya air hujan. Selepas hujan berhenti, kami berjalan menuju pintu masuk Situ Patenggang melewati jajaran warung makan dan penjual cenderamata. Sampai di pintu masuk disambut sebuah batu prasasti yang menceritakan tentang kisah Situ Patenggang.

WP_20140621_15_02_20_Pro_wm

” Air yang tenang di Situ Patenggang “

Situ Patenggang menyimpan kisah masa lalu yang menarik. Kisah tentang cinta sepasang kekasih yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis. Konon, mereka berpisah dalam waktu yang lama dan akhirnya setelah saling mencari, mereka bertemu di sebuah tempat yang sekarang bernama Batu Cinta. Batu tersebut berada disebuah pulau yang berbentuk hati yang dinamakan Pulau Asmara atau sering disebut Pulau Sasaka. Pulau tersebut berada di tengah Situ Patenggang. Untuk menuju pulau tersebut disediakan perahu yang bisa disewa oleh pengunjung.

WP_20140621_15_02_36_Pro_wm

” Perahu untuk menuju Batu Cinta “

Dari pintu masuk Situ Patenggang, kami berjalan menyusuri jalan setapak yang di kiri-kanannya di dominasi pepohonan pinus. Terdapat batu-batu besar yang tersebar di area ini. Beberapa gazebo tersedia buat pengunjung untuk beristirahat sejenak setelah lelah berkeliling. Suasana di sini terasa teduh dan nyaman, teduhnya tempat ini akan lebih terasa saat cuaca terik di siang hari. Dinginnya udara membuat kami sedikit menggigil, wajar karena tempat ini berada di ketinggian sekitar 1600 meter dpl ditambah hujan deras yang mengguyur tempat ini.

WP_20140621_15_07_38_Pro_wm

” Mendung membuat permukaan Situ patenggang terlihat gelap “

Melihat pemandangan dari pinggiran Situ Patenggang tidak kalah indah. Dengan suasana mendung hitam dan kabut tebal yang menyelimuti jajaran bukit-bukit hijau dikejauhan dan lebatnya pepohonan di seberang membuat suasana terasa mistis. Kabut tebal berjalan perlahan melayang-layang di atas permukaan air, kesan mistis benar-benar terasa. Perahu yang sedang berjalan diatas air seakan di telan oleh tebalnya kabut, menghilang dari pandangan mata.

WP_20140621_15_20_49_Pro_wm

” Kabut tipis sisa dari kabut tebal yang sempat menutupi “

Kami terus berkeliling menyusuri jalan setapak menikmati suasana Situ Patenggang, tidak lupa mengabadikan foto pemandangan indah yang disajikan dengan kamera handphone kami. Cukup lah untuk sekedar kenang-kenangan. Hujan kembali mengguyur kawasan Situ patenggang, kami berlarian mengamankan diri di sebuah gazebo di pinggir situ. Sambil menahan dingin kami menunggu sampai hujan reda. Akibat hujan deras yang mengguyur, di beberapa titik muncul genangan-genangan air.

WP_20140621_17_06_19_Pro_wm

” Danau Cinta…Situ Patenggang “

Deras hujan berangsur-angsur reda, cukup lama waktu yang kami habiskan untuk menunggunya. Langit sepertinya tidak bersahabat pada hari itu. Melihat waktu yang semakin beranjak sore, kami menyudahi kunjungan kami di Situ Patenggang. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu yang kami habiskan untuk menikmati suasana dan pemandangan indah di Situ Patenggang. Walaupun ini merupakan kunjungan saya yang kedua, tapi saya tidak akan menolak jika suatu saat saya diajak untuk mengunjungi lagi tempat ini.

Sekitar jam 4 sore kami meninggalkan Situ Patenggang. Saya mengajak kedua teman saya untuk mengunjungi satu tempat yang menarik yang lokasinya tidak jauh dari Situ Patenggang yaitu Kawah Rengganis. Kurang lebih 2 km ke arah Perkebunan Teh Cibuni. Pintu masuk menuju kawah berada tepat di pinggir jalan, dengan jalan setapak yang menanjak. Terlihat gerbang kecil dengan papan nama bertuliskan Kawah Rengganis. Hanya motor yang bisa melalui jalan ini. Sedang mobil terpaksa diparkir di sisi jalan raya.

Begitu melewati gerbang, motor langsung dihadapkan tanjakan terjal menaiki bukit dengan jalan yang diberi tatanan batu. Waktu itu baru beberapa meter saja yang diberi tatanan batu selebihnya jalur tanah merah berlumpur yang licin dengan jurang yang menganga di sisi jalan. Tapi kita akan disajikan pemandangan yang indah dari atas bukit. Hamparan Perkebunan Teh Cibuni dengan kontur yang berbukit-bukit bisa dilihat dari atas. Bukit-bukit hijau terlihat seperti berbaris membentang sampai jauh. Terlihat juga jalan raya dibawah yang berkelok-kelok bak ular menyusuri kebun teh.

WP_20140621_17_28_44_Pro_wm

” Kepulan asap dari salah satu lubang Kawah Rengganis “

Kurang lebih 1 km jarak yang ditempuh menyusuri jalan setapak sampai ke sebuah kampung kecil bernama Cibuni. Bagi yang membawa mobil harus rela berjalan kaki 1 km menuju ke kampung ini. Awalnya kawah ini bernama Kawah Cibuni sesuai nama kampung dimana kawah tersebut berada. Tapi kemudian diubah oleh pengelola menjadi Kawah Rengganis. Di kampung ini hanya ada beberapa rumah, mungkin bisa dihitung dengan jari. Dibawahnya mengalir sebuah sungai yang menjadi aliran air dari Kawah Rangganis.

Keunikan dari Kawah Rengganis adalah adanya rumah warga yang berdiri diantara lubang kawah. Mungkin karena asap disini bau belerangnya tidak terlalu menyengat, jadi warga tidak terlalu terganggu. Lubang-lubang kawah disini berukuran kecil dan terdapat aliran sumber mata air panas dengan airnya yang jernih. Air panas ini dimanfaatkan oleh penduduk dengan membuat pemandian sederhana. Pemandian tersebut dibuat penduduk dengan mengalirkan sumber air panas melalui beberapa pipa, sehingga membentuk pancuran dan dibawahnya dibikin kolam sederhana.

WP_20140621_17_30_28_Pro_wm

” Lubang Kawah Rengganis yang terus mengeluarkan asap putih “

Menuju ke kawah yang letaknya di bawah kampung, kami menuruni jalan setapak berbentuk tangga. Kemudian melewati beberapa lubang kawah dengan asap yang mengepul. Rumah warga yang berdiri didekat kawah juga dijadikan sebagai warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Warga juga menyediakan toilet bagi pengunjung. Area disekitar kawah terlihat masih berupa hutan yang lebat dengan pohon cantigi mendominasi. Batu-batu besar juga tersebar di sekitar area kawah.

Langit sore terlihat semakin gelap dan waktu menunjukkan sebentar lagi memasuki waktu magrib. Kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di tempat ini, rencana untuk mandi air panas pun batal. Karena melihat air jadi keruh berwarna cokelat akibat hujan deras, kami jadi malas untuk menikmatinya. Saya pun hanya mengambil foto sekedarnya saja. Ini merupakan kunjungan kedua saya ditempat ini. Saya pasti akan kembali, karena di dua kesempatan saya belum merasakan nikmatnya mandi air panas di Kawah Rengganis.

Advertisements

Tags: , , , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: