Museum Fatahillah…Melepas Lelah

WP_20140514_11_14_09_Pro_wm

” Museum Fatahillah “

Sesaat setelah bel kantor berbunyi yang menandakan aktifitas kerja pagi itu dimulai. Handphone saya berdering dengan merdunya. Layar handphone menunjukkan sebuah nomor yang tidak saya kenal. Setelah telpon saya angkat, ternyata salah seorang nasabah yang meminta saya untuk bertemu di kantornya. Dia memberikan alamat kantornya di sebuah bank swasta di kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya disamping Museum Fatahillah.

Nasib jadi pekerja yang sering terjun ke lapangan, harus siap kapan pun dan dimana pun nasabah meminta untuk bertemu. Saya yang sebelumnya agak malas untuk kesana, melihat jauhnya jarak antara kantor saya di Bintaro dengan tempat yang diminta di daerah Jakarta Barat, tapi karena nasabah tersebut menyebut bahwa kantornya di samping Museum Fatahillah saya jadi tertarik. Saya langsung mengiyakan ajakan tersebut. 

Dari Bintaro motor saya melewati ramainya lalu lintas dan kemacetan ibukota ditambah sengatan matahari yang begitu panas pada hari itu. Saya sama sekali belum pernah mengunjungi Kota Tua maupun Museum Fatahillah, dengan mengandalkan GPS di handphone akhirnya saya sampai di tempat yang diminta. Kantor nasabah saya persis di jajaran bangunan disamping kanan museum. Pertemuan dengan nasabah berlangsung singkat, dengan masih banyaknya waktu saya memutuskan berkeliling di sekitaran lapangan luas di depan museum.

WP_20140514_11_13_13_Pro_wm

” Bangunan peninggalan VOC “

Dari depan bangunan di dekat sebuah air mancur tepat di tengah-tengah lapangan yang luas. Saya mengagumi keindahan dan kemegahan bangunan peninggalan Belanda ini, tepatnya zaman VOC berkuasa. Bangunan dibangun dengan gaya arsitektur abad 17 dengan bagian tengah sebagai bangunan utama dan sayap bangunan di kanan dan kirinya. Bangunan berlantai tiga bercat putih cerah dengan jendela-jendela besar bercat hijau tua.

Pembangunan dimulai pada masa Gubernur Jendral Jan Pieterzon Coen sekitar tahun 1620. Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai balai kota Batavia yang kemudian diubah menjadi Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Untuk mengenang seorang pejuang yang berhasil mengalahkan Belanda dan mengubah nama Batavia menjadi Jayakarta, yang kemudian berubah lagi menjadi Jakarta.

WP_20140514_11_12_08_Pro_wm

” Sepeda warna-warni di Lapangan Museum Fatahillah “

Panas yang menyengat membuat saya menyerah untuk berkeliling terlalu lama di lapangan Museum Fatahillah. Setelah mengambil beberapa foto dengan kamera handphone, akhirnya saya menepi di pinggiran lapangan, menghampiri seorang penjual minuman dingin. Sambil melepas lelah, saya mengobrol dengan si penjual. Menikmati suasana siang hari di sekitaran museum.

Sayangnya saya tidak sempat untuk masuk ke dalam museum, melihat isi di dalam bangunan yang berisi barang-barang bersejarah. Melihat lebih jauh tentang sejarah Kota Jakarta. Saya sudah berencana untuk bisa berkunjung lagi di lain kesempatan, tapi ternyata kesempatan itu tidak juga datang sampai akhirnya saya meninggalkan pekerjaan dan Kota Jakarta. Kembali ke tempat perantauan saya yang pertama yaitu Kota Bandung.

Advertisements

Tags: , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: