Bumi Laskar Pelangi…Belitung (III)

WP_20140418_13_20_54_Pro_wm

” Bangunan SD Muhammadiyah Gantong dalam Film Laskar Pelangi “

Gantung atau orang lokal belitung menyebutnya Gantong, merupakan sebuah kecamatan di Belitung Timur yang berada di sebelah selatan Kota Manggar. Sekitar 30 menit perjalanan dari Manggar dengan menggunakan motor. Di Gantung inilah setting cerita utama dari novel dan film Laskar Pelangi dibuat, sebagian besar lokasi syuting berada di daerah ini. Andrea Hirata sang penulis novel Laskar Pelangi, merupakan putra asli daerah Gantung. Menuliskan kisah nyata tentang masa kecilnya sewaktu Gantung masih berjaya dengan tambang timahnya. Tapi semua kejayaan itu tidak bisa dinikmati oleh sebagian besar warga Gantung.

Sekarang Gantung menjelma menjadi sebuah tempat tujuan wisata populer bagi setiap orang yang berkunjung ke Belitung. Rasanya tidak lengkap pergi ke Belitung tanpa mampir ke Gantung walaupun jaraknya cukup jauh dari Tanjung Pandan. Berkat jasa seorang Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya, Gantung yang telah tenggelam dalam sejarah kejayaan timah masa silam muncul kembali dengan bentuk yang berbeda, bukan lagi menawarkan bulir timah tapi menawarkan pesona wisata. Baik wisata alam, wisata sejarah dan juga wisata edukasi.

WP_20140418_13_30_12_Pro_wm

” Lokasi baru SD Muhammadiyah Gantong “

Selepas kumandang adzan sholat jumat berlalu dan kewajiban sholat jumat sudah saya laksanakan. Bersama dua orang teman saya, perjalanan kami lanjutkan menuju Gantung menyusuri jalanan Kota Manggar melewati kantor bupati Belitung Timur. Sebenarnya di Manggar ada beberapa tempat wisata yang bisa di kunjungi, seperti Pantai Serdang, Pantai Nyiur Melambai, Pantai Bukit Samak dan Pantai Keramat. Tapi karena keterbatasan waktu, kami memilih untuk melewatkannya.

Beberapa kilometer sebelum memasuki Gantung, kami membelokkan motor menuju sebuah tempat wisata yang menarik, yaitu Bendungan Pice. Tempat yang menjadi salah satu tujuan kami di Gantung. Sebuah bendungan peninggalan jaman Belanda yang membendung aliran Sungai Lenggang. Tapi sungguh disayangkan waktu kami menuju ke arah Bendungan, sedang ada perbaikan jembatan sehingga memutus jalur menuju kesana. Kami di beri tahu oleh warga, untuk menuju bendungan bisa ke sisi seberang sungai yang jalan masuknya melewati kota kecamatan Gantung.

Bendungan pice terpaksa kami lewatkan, kami memutuskan untuk langsung menuju ke bangunan SD Muhammadiyah Gantung yang menjadi ikon dari film Laskar Pelangi. Kami mampir sebentar di pabrik pengolahan timah yang berada persis di pinggir jalan arah kota kecamatan Gantung. Di samping pabrik mengalir dengan anggun Sungai Lenggang dengan warna airnya yang terlihat kehijauan. Bangunan pabrik dari PT.Timah ini juga dijadikan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi.

WP_20140418_13_27_51_Pro_wm

” Bangunan yang menjadi ikon Gantong “

Dengan mengikuti petunjuk arah, akhirnya kami sampai juga di lokasi SD Muhammadiyah Gantung sekitar jam 01.30 siang. Saya mengingat-ingat waktu kunjungan pertama saya di tahun 2010 yang lalu. Saya merasa lokasi dari bangunan sekarang berbeda dari lokasi yang dulu, dan ternyata memang benar bangunan baru di pindah dari lokasi lama ke lokasi yang baru sekarang. Lokasi yang baru terlihat berada ditempat yang agak tinggi, seperti berada di gundukan tanah dengan pasir putih yang cantik. Terdapat sebuah danau kecil yang berada disisi sebelah kiri bangunan. Di depan bangunan SD dibuat pagar tembok sederhana dengan tiga buah balok kayu disusun membentuk seperti pintu gerbang.

Bangunan terlihat masih sama, sederhana dan usang. Dinding terbuat dari lembar-lembar kayu tua kusam dengan beratapkan lembaran seng karatan. Tidak ketinggalan dua buah balok kayu panjang yang dijadikan penyangga bangunan yang berfungsi mencegah bangunan ini roboh. Di dalamnya lemari, bangku dan meja kayu tua yang terlihat sudah reyot dan sebuah papan tulis hitam tergantung di dinding. Berada di dalam ruangan kelas, membuat saya ikut merasa prihatin dengan kondisi pendidikan pada waktu itu. Tidak terbayangkan andai saya menjadi salah satu muridnya.

WP_20140418_14_33_30_Pro_wm

” Museum Kata Andrea Hirata “

Tidak lama kami berada di SD Muhammadiyah Gantung. Kunjungan kami lanjutkan ke Museum Kata Andrea Hirata yang lokasinya berdekatan. Waktu kunjungan saya di tahun 2010 museum ini belum ada. Saya kurang tahu persis tahun berapa museum ini dibuat. Motor kami parkir di halaman sebuah masjid tepat di depan museum. Memasuki halaman museum kami disambut sebuah pintu gerbang terbuat dari susunan batu-batu kecil dan batu bata yang disemen kasar. Bangunan museum terlihat tidak seperti bangunan museum pada umumnya, bangunan hanya berupa rumah kayu biasa.

WP_20140418_13_41_30_Pro_wm

” Bangunan museum yang sederhana “

Setelah menanggalkan alas kaki di teras museum, kami memasuki museum yang lantainya beralaskan tikar anyaman. Langsung terlihat deretan tulisan karya sastra dari Andrea Hirata dan foto-foto dalam balutan bingkai kayu bercat hitam disusun rapi digantung pada dinding. Sebagian besar diambil dari cuplikan novel Laskar Pelangi dan filmnya. Museum kata ini merupakan museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia. Walaupun sederhana tapi kita patut berbangga dengan adanya museum ini. Mengunjungi museum ini seperti menapak tilas perjalanan bocah-bocah laskar pelangi dalam cerita novel maupun filmnya.

WP_20140418_13_46_28_Pro_wm

” Ruangan utama Museum Kata “

Masuk ke ruang tengah atau bisa disebut ruang utama museum, selain deretan karya sastra dan foto, terlihat juga beberapa perabotan tua nan antik seperti meja dan kursi tua, lemari kayu dengan radio tua, jam dinding dan lampu hias tua. Terdapat dua buah ruang atau kamar khusus di ruang utama ini. Ruang tersebut masing-masing menceritakan tentang sosok Ikal dan Lintang. Beberapa cuplikan novel dan foto adegan dari sosok Ikal dan Lintang dalam film Laskar Pelangi terpajang diruangan ini.

Dari ruang utama masuk ke bagian ruang belakang tanpa kamar. Disini terdapat tempat khusus bagi sosok sang seniman cilik penggemar raja dangdut Rhoma Irama, yaitu Mahar. Tepatnya berada dibagian sisi pojok kiri ruangan. Terdapat foto dan cuplikan novel Laskar Pelangi yang menceritakan tentang sosok Mahar ini. Sayangnya di tahun 2015 lalu, tokoh yang memerankan sosok Mahar ini dalam film Laskar Pelangi ditemukan meninggal dalam kamar kostnya sewaktu menempuh pendidikan sarjana di Jakarta. Sebuah kehilangan besar dari keluarga besar laskar pelangi.

WP_20140418_13_49_11_Pro_wm

” Ruangan Mahar “

Dari ruang Mahar masuk ke bagian paling belakang yaitu dapur. Bagian dapur ini diubah menjadi seperti sebuah warung kopi dengan papan hitam bertuliskan “Warung Kopi Kuli” terpajang di dinding. Kesan jaman dulu (jadul) terasa kental di dapur ini, dengan dinding kayu tua yang sudah pudar warna catnya dan perabot tua nan antik didalamnya, serta tungku dapur yang berbahan bakar kayu arang. Mengingatkan saya akan dapur di rumah nenek saya di kampung.

Disini bisa bersantai sambil menikmati secangkir kopi khas Manggar. Tidak ketinggalan beberapa makanan dan minuman ringan tersaji rapi diatas sebuah meja kayu besar dengan bangku kayu. Jangan takut dengan harganya, dijamin tidak bikin dompet jebol. Setelah puas menikmati beragam karya sastra di dalam museum, tidak ada salahnya beristirahat sejenak dengan secangkir kopi panas. Kurang lengkap ke Manggar tanpa mencicipi kopi hitamnya yang nikmat. Keluar dari bangunan museum melalui dapur, kita bisa melihat di bangunan terpisah beberapa foto dari sastrawan luar negeri.

WP_20140418_14_10_54_Pro_wm

” Menikmati kopi hitam khas Manggar “

Ada begitu banyak kesan positif yang saya dapatkan dengan mengunjungi museum ini. Membaca karya-karya sastra dari Andrea Hirata yang terpajang di dinding, baik yang berhubungan dengan Laskar Pelangi maupun karya lainnya, membuat saya mulai terpikat dengan sastra. Tulisan-tulisan dan quotes pendek yang dia bikin sungguh luar biasa menginspirasi saya. Membuat saya optimis dengan yang namanya mimpi. Serasa membakar semangat saya untuk meraih mimpi-mimpi itu. Bahwa apapun mimpi yang kita miliki bisa kita wujudkan. Karena tuhan juga tidak melarang kita untuk bermimpi.

Setelah puas menikmati karya sastra dari Andrea Hirata dan secangkir kopi hitam nikmat khas Manggar. Kami pulang kembali menuju Tanjung Pandan, mengakhiri petualangan kami di Belitung Timur. Pulang dengan membawa semangat laskar pelangi dalam dada kami. Dalam perjalanan pulang, kami melewati jalur yang berbeda. Dengan mengikuti petunjuk jalan, ternyata kami diarahkan melewati Kecamatan Badau. Sesuai estimasi waktu yang saya perkirakan, kami masih memiliki waktu untuk mengunjungi Pantai Tanjung Binga dan Pantai Bukit Berahu di daerah Sijuk untuk melihat sunset.

WP_20140418_13_40_35_Pro_wm

” Indonesia’s most inspiring museum “

[BERSAMBUNG]

Advertisements

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: