Bumi Laskar Pelangi…Belitung (I)

WP_20140417_16_35_43_Pro_wm

” Bumi Pelangi Belitong “

” Laskar pelangi takkan terikat waktu, Bebaskan mimpimu di angkasa warnai bintang di jiwa. Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga, Bersyukurlah pada yang kuasa cinta kita di dunia…Selamanya “

Petikan lirik lagu ” Laskar Pelangi ” diatas yang dinyanyikan oleh Nidji sebagai soundtrack dari film dengan judul yang sama. Menjadi fenomena kala itu sekitar tahun 2008, filmnya mendadak menjadi boxoffice di Indonesia. Tidak hanya buku novelnya yang laris manis, filmnya pun yang mengadopsi cerita dari novel tersebut tak kalah larisnya diserbu penonton. Film yang menyajikan cerita berbeda dari trend film yang muncul di perfilman Indonesia pada tahun itu.

Sosok dibalik itu semua adalah seorang anak belitung asli yang bernama Andrea Hirata. Dia lah sosok yang menulis cerita inspiratif di buku novel Laskar Pelangi. Lewat ceritanya dia mengenalkan daerah tanah kelahirannya yaitu Belitung. Bercerita mengenai masa-masa kecil dari seorang Andrea Hirata di tanah surga timah Belitung. Akibat dari ceritanya tersebut nama Belitung mulai dikenal di seantero Indonesia. Lewat filmnya, terkuak lah kecantikan Belitung dengan pantai-pantai indahnya dihiasai batu-batu granit yang besar. Membuat orang-orang penasaran untuk mengunjunginya sekaligus napak tilas ke tempat-tempat yang dijadikan lokasi syuting di film tersebut.

WP_20140417_07_24_40_Pro_wm

” Begitu mendarat di Belitung, tulisan ini akan menyambut “

Kembali tanggal merah menjadi favorit bagi saya sebagai pekerja kurang piknik. Melihat ada tanggal merah di tanggal 18 April 2014, teman saya mengeluarkan ide untuk pergi liburan ala backpacker. Tidak tanggung-tanggung, dia mengajak liburan ke luar pulau Jawa. Tujuannya yaitu antara Bali atau Lombok. Bahkan mengajak untuk bolos kerja di tanggal 17, mengingat kantor saya sangat pelit dan susah mengajukan cuti.

Setelah mengecek harga tiket pesawat ke Bali dan Lombok ternyata tidak sesuai dengan kantong kita, terpaksa merubah haluan ke tujuan lain. Tiket tujuan yang sesuai kantong ada 3 pilihan antara Bengkulu, Bangka dan Belitung. Karena teman saya penasaran dengan Belitung akibat dari film Laskar Pelangi, saya pun sepakat untuk terbang kesana. walaupun sebenarnya saya sudah mengunjungi Belitung sekitar tahun 2010.

WP_20140417_10_42_56_Pro_wm

” Pantai Tanjung Kelayang “

Di pagi buta nan dingin kami berdua berangkat menuju pool travel di daerah Bintaro. Tepat jam 3 pagi tanggal 17 April 2014, travel meluncur menuju Bandara Soekarno-Hatta. Tiket pesawat yang kami pesan yaitu Sriwijaya Air tujuan Tanjung Pandan dengan waktu keberangkatan jam 07.00 pagi. Pada waktu itu kita dapat tiket seharga sekitar 400 ribu untuk berangkat sedangkan untuk pulang kita pesan tgl 19 tujuan Jakarta dengan harga yang kurang lebih sama.

Ternyata pesawat berangkat lebih cepat, sekitar jam 06.30 pagi kami sudah diminta untuk boarding. Dan akhirnya pesawat lepas landas meninggalkan pulau Jawa menuju Tanjung Pandan. Tidak sampai satu jam kami sudah tiba di Bandara H.AS Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Sekitar jam 07.15 pagi kami sudah mendarat dengan selamat di bumi laskar pelangi.

Begitu keluar dari pintu bandara, riuh suara para sopir-sopir travel menyambut kedatangan kami. Menawarkan jasanya untuk mengantar ke Kota Tanjung Pandan. Kami sepakat dengan salah seorang sopir travel dengan harga 50 ribu per orang, kami minta untuk mengantar kami ke Kota Tanjung Pandan sekaligus mencari tempat penginapan.

WP_20140417_10_28_01_Pro_wm

” Kapal siap mengantar ke Pulau Lengkuas dan pulau lainnya “

Sampai di Kota Tanjung Pandan, sopir travel saya minta menuju ke Hotel Surya di Jl. Depati Endek di dekat bundaran Tugu Batu Satam. Dari info yang saya dapat hotel ini di rekomendasikan untuk para backpacker. Tepat seperti info yang saya dapat, hotel ini rekomended untuk para backpacker low budget. Hotelnya berada di lantai dua diatas sebuah toko. Terdapat pintu kecil dengan papan nama dan anak tangga di samping toko. Saya pesan satu kamar untuk 2 hari seharga 120 ribu per malam dengan 2 tempat tidur dan ada AC’nya. Sedang untuk kamar mandi ada di luar. Kondisi hotel dan kamar terlihat bersih dan nyaman, kamar mandi juga terlihat bersih. Kita juga dapat sarapan pagi gratis.

Begitu urusan kamar selesai, kami minta tolong ke sopir travel untuk mencarikan motor buat kami sewa berkeliling Belitung untuk 3 hari. Sang sopir langsung gerak cepat menelpon seseorang. Tidak sampai 30 menit motor yang kami sewa pun datang. Kami sepakat dengan harga sewa motor 60 ribu per hari. Tanpa buang waktu lagi dengan modal peta dan GPS di handphone, kami langsung meluncur ke arah utara melewati Pantai Tanjung Pendam menuju tempat pertama di daftar list yang saya buat yaitu Pantai Tanjung Kelayang. Dari pantai tersebut kita berencana menyewa kapal untuk menuju ke pulau-pulau disekitarnya seperti Pulau Lengkuas.

WP_20140417_10_43_14_Pro_wm

” Suasana di Pantai Tanjung Kelayang “

Matahari begitu terik menyengat, Belitung memang panas. Tapi itu bukan halangan bagi kami. Sekitar jam 10.30 kami sampai di Pantai Tanjung Kelayang di daerah Sijuk. Suasana pantai ini sudah jauh berbeda dari tahun 2010 lalu, terdapat bangunan megah seperti pendopo dengan pelataran yang luas dan tulisan besar di pinggir pantai “Welcome To Belitong “. Terdapat juga menara pandang. Kondisinya sudah benar-benar berubah, terlihat lebih bagus dan tertata.

Setelah memarkir motor, kami bersantai sejenak disebuah bangku kayu dibawah pohon yang rindang menikmati pemandangan pantai dengan pasir putihnya yang indah dan birunya laut yang mempesona mata. Di kejauhan terlihat susunan batu-batu granit besar di laut. Salah satunya terlihat seperti kepala burung, oleh sebab itu batu tersebut dinamakan Batu Garude (garuda).

Kami didatangi seseorang yang menawarkan jasa kapal untuk berkeliling pulau dan snorkling. Dia mengajak untuk bergabung dengan seorang pemuda dari Bandung yang sedang mencari teman untuk patungan sewa kapal. Kami lantas berkenalan dengan orang tersebut yang berasal dari tanah minang dan ternyata dia sendirian pergi backpacker ke belitung. Karena dirasa harga sewa yang diminta yaitu 450 ribu masih terlalu mahal, pemilik kapal menyuruh kami menunggu. Dia akan cari orang lagi untuk gabung dengan kita.

WP_20140417_11_11_08_Pro_wm

” Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas “

Tidak lama datang sebuah mobil memasuki parkiran. Turunlah rombongan keluarga dari dalam mobil tersebut. Sang pemilik kapal langsung menghampiri menawarkan jasanya. Keberuntungan pun datang, ternyata keluarga tersebut berasal dari tanah minang yang punya usaha rumah makan padang di Belitung. Teman baru kami langsung ngobrol pakai bahasa minang dengan mereka. Dan kesepakatan pun tercipta, keluarga tersebut patungan 300 ribu sedang sisanya 150 ribu dari kami bertiga. Rejeki anak soleh, modal 50 ribu bisa keliling pulau ditambah snorkling.

Sekitar jam 11 siang, kami bersama rombongan meninggalakan Tanjung Kelayang menuju ke Pulau Lengkuas. Kapal membelah birunya air laut, di perairan dangkal airnya terlihat jernih sampai karang dan pasir pun terlihat, airnya berwarna biru tosca. Sedang di perairan dalam air laut berwarna biru gelap tapi tetap cantik. Pemandangan selama perjalanan begitu mempesona mata, pulau-pulau kecil dengan pasir putih dan juga batu-batu granit besar menghiasi laut yang terlihat seperti membentuk sebuah pulau.

Kapal berhenti sejenak di sekitar Pulau Pasir. Pulau yang begitu cantik dengan pasir putih yang muncul di permukaan air laut. Pulau kecil tersebut hanya berupa daratan pasir putih, kalau air sedang pasang pulau tersebut akan tenggelam. Tapi sayang waktu itu di Pulau Pasir sedang ramai dikunjungi. Kami sepakat untuk langsung manuju ke Pulau Lengkuas.

WP_20140417_11_08_23_Pro_wm

” Pulau Pasir yang cantik “

Mendekati Pulau Lengkuas terlihat tinggi menjulang sebuah mercusuar tua yang masih kokoh berdiri. Mercusuar tersebut seakan menjadi bangunan ikonik dari pulau ini. Kapal pun berlabuh di pasir putih Pulau Lengkuas, kurang lebih 30 menit perjalanan dari Tanjung Kelayang. Begitu turun dari kapal pandangan saya langsung mengarah ke atas memandang puncak mercusuar. Mengagumi tinggi dan kokohnya bangunan tersebut.

Matahari siang makin menyengat, kulit saya serasa terbakar. Tapi tidak mengahalangi saya untuk menikmati pulau ini. Mengabadikan keindahannya melalui kamera. Pulau Lengkuas merupakan pulau yang paling terkenal di antara pulau yang lain. Selain bermain di cantiknya pasir putih. Kita juga bisa menaiki tumpukan batu-batu granit besar di sekitar pulau. Tapi awas telapak kaki akan terasa panas saat menginjak batu-batu tersebut di siang hari. Lebik baik menggunakan alas kaki dan tetap berhati-hati saat melompat dari batu ke batu.

WP_20140417_11_31_39_Pro_wm

” Mendekati Pulau Lengkuas “

WP_20140417_11_56_19_Pro_wm

” Mercusuar ikonik peninggalan Belanda “

Panas semakin menyengat, saya lama-lama tidak tahan juga. Kulit sudah terlihat memerah terbakar matahari. Sesi foto sementara diakhiri, waktunya mencari tempat yang rindang nan sejuk. Sambil menikmati semilir angin pantai. Beristirahat sejenak sebelum berlelah ria menaiki satu persatu anak tangga  menuju puncak mercusuar.

WP_20140417_11_40_31_Pro_wm

” Dibawah pohon rindang “

WP_20140417_11_48_45_Pro_wm

” Kesejukan pulau “

Menaiki mercusuar adalah hal yang jangan sampai terlewat kala mengunjungi Pulau Lengkuas. Tidak lengkap mengunjungi pulau ini tanpa menikmati panorama yang mempesona dari puncak mercusuar. Rasa lelah menaiki satu persatu anak tangga sampai anak tangga terakhir akan hilang seketika begitu sampai di puncaknya. Mercusuar tersebut adalah bangunan peninggalan kolonial Belanda sekitar tahun 1882. Dan masih berfungsi dengan baik digunakan untuk membantu navigasi kapal-kapal yang melintas diperairan sekitar Belitung.

Memasuki area mercusuar terdapat beberapa bangunan yang mengelilinginya. Tempat tersebut merupakan bangunan untuk petugas penjaga mercusuar. Sebelum memasuki mercusuar kami diminta untuk melepas alas kaki dan mencuci kaki di sebuah ember besar, tujuannya adalah untuk membersihkan kaki dari pasir pantai yang menempel. Mengingat pasir pantai mengandung garam yang bisa mengakibatkan korosi karena bangunan mercusuar terbuat dari besi. Menjaga bangunan biar tetap kokoh tanpa digerogoti karat.

WP_20140417_12_34_55_Pro_wm

” Pemandangan batu granit dari atas mercusuar “

Satu persatu anak tangga saya pijak menuju puncak keindahan. Rasa lelah saya abaikan. Sesekali berhenti untuk mengabadikan foto melalui jendela yang terdapat di tiap lantai. Mercusuar setinggi kurang lebih 70 meter ini mempunyai sekitar 18 lantai. Bayangkan sendiri rasa lelah meniti anak tangga sampai 18 lantai. Warna-warna karat menghiasi tubuh besi mercusuar tua ini yang tetap kokoh berdiri melewati lebih dari seratus tahun usianya.

Sampai di lantai paling atas terdapat pintu kecil menuju ke sebuah teras melingkar dengan pagar pengaman mengelilinginya setinggi perut orang dewasa. Di teras itulah terlihat dengan jelas pemandangan surga Belitung. Serasa menghipnotis mata akan keindahannya. Mata tak akan bosan memandang panorama yang mempesona. Jernih dan birunya air laut dengan batu karangnya memanjakan mata dan batu-batu granit yang berwarna hitam bercampur putih bersama pasir putih yang cantik menjadi pelengkap akan semua keindahan yang disajikan didepan mata kita.

WP_20140417_12_31_58_Pro_wm

” Hilir mudik kapal menuju Pulau Lengkuas “

WP_20140417_12_33_00_Pro_wm

” Pulau Batu Granit “

WP_20140417_12_35_12_Pro_wm

” Panorama yang mempesona “

Melihat panorama laut Belitung dari atas mercusuar merupakan sesuatu yang paling berkesan bagi saya. Meninggalkan kenangan yang tidak akan saya lupakan. Ini merupakan salah satu sebab saya mau kembali mengunjungi Belitung setelah kunjungan pertama saya tahun 2010 lalu. Waktu itu saya sampai menginap di Pulau Lengkuas, mendirikan tenda dan membakar ikan. Menikmati malam yang sepi dan sunyi di pulau nan cantik ini. Tapi di kunjungan kedua ini sayangnya saya tidak akan menginap di pulau ini.

Puas menikmati pemandangan indah dari atas mercusuar, kami kembali ke bawah menuruni 18 lantai mercusuar. Sampai di pantai kami melanjutkan berfoto ria mengabadikan setiap momen kebersamaan kami di Pulau Lengkuas. Sebelum meninggalkannya menuju ke pulau yang lain. Bermain-main menaiki batu-batu granit besar. Menikmati saat-saat terakhir di pulau yang indah ini.

WP_20140417_11_55_23_Pro_wm

” Kumpulan batu granit yang membentuk pulau “

WP_20140417_13_05_42_Pro_wm

” Kita bisa menyebrang ke batu granit jika air surut “

Kurang lebih 2 jam kami mengunjungi Pulau Lengkuas. Saatnya untuk menuju ke pulau yang lain menikmati keindahan lain yang ditawarkan. Sekaligus bersnorkling ria melihat keindahan bawah laut Belitung dengan airnya yang jernih. Sekitar jam 01.30 siang kami meninggalkan Pulau Lengkuas dengan sejuta kenangan yang tertinggal. Dan berharap bisa kembali lagi suatu hari nanti.

WP_20140417_13_18_20_Pro_wm

” Pulau Lengkuas dan Mercusuar tua “

Perlengkapan snorkling sudah lengkap menempel di tubuh kami. Kapal pun sudah lempar jangkar di spot snorkling. Waktunya untuk menikmati pemandangan bawah laut Belitung. Spot snorkling ini letaknya tidak terlalu jauh dari Pulau Lengkuas. Dengan kedalaman kurang lebih antara 2-4 meter. Kami bersama rombongan satu persatu terjun dari atas kapal, membiru bersama air laut yang jernih. Ikan-ikan yang cantik terlihat bergerombol berenang kesana kemari dengan ceria. Karang-karang yang indah dan juga pasirnya yg putih terlihat jelas dengan mata kami, tentunya dengan menggunakan masker.

Tak terasa satu jam sudah kami menikmati pemandangan bawah laut Belitung yang indah. Waktu serasa berputar cepat, seakan tak memberi kami kesempatan untuk berlama-lama menikmati keindahannya. Keceriaan kami bersnorkling berakhir, meninggalkan kulit yang memerah terbakar matahari siang yang terik menyengat. Sayang saya tidak bisa membagi foto-foto waktu snorkling, karena foto diambil pakai kamera pocket yang filenya saya simpan di harddisk laptop yang sekarang kondisinya rusak dan belum bisa di recovery.

WP_20140417_14_54_28_Pro_wm

” Sekitar Pulau Kepayang “

Kapal bergerak kembali menuju ke sebuah pulau yang tak kalah cantik. Dan kapal pun berlabuh di pasir putih yang lembut sekitar jam 3 sore. Pulau tersebut bernama Pulau Kepayang. Pulau yang bisa membuat mabuk kepayang sampai tidak mau pulang. Kami di pulau tersebut untuk beristirahat sejenak setelah kelelahan bersnorkling ria sambil membersihkan badan kami dengan air bersih dan berganti pakaian.

Di pulau kecil ini terdapat penginapan dan juga restoran dengan bangunan kayu yang besar dan cantik. Restoran ini modelnya terbuka, dengan meja dan bangku yang juga terbuat dari kayu. Terdapat juga warung kecil untuk sekedar menikmati mie rebus dan secangkir kopi nikmat. Dan juga tidak ketinggalan terdapat kamar mandi umum yang kami gunakan untuk membersihkan badan kami biar kembali wangi.

WP_20140417_15_35_08_Pro_wm

” Mendarat di Pulau Babi “

Pulau Kepayang hanya sebentar saja kami kunjungi, mengingat terbatasnya waktu yang kami miliki. Kurang lebih 30 menit waktu yang kami habiskan untuk menikmati pulau kecil yang indah ini. Kapal kembali bergerak menuju ke pulau terakhir. Tidak terlalu jauh dari Pulau Kepayang kami berlabuh di sebuah pulau dengan batu-batu granit yang besar. Pulau tersebut bernama Pulau Babi. Tapi tenang tidak ada babi satu ekor pun di pulau ini.

Hangat sinar matahari sore membuat batu-batu granit tidak lagi panas untuk diinjak dengan telanjang kaki. Kami bebas lompat sana lompat sini diantara batu-batu granit, tapi tetap harus dengan hati-hati. karena batu tersebut beberapa ada yang berukuran raksasa menjulang tinggi, jika kita naik keatasnya dan terjatuh bisa fatal akibatnya. Pemandangan dari atas batu granit tak kalah indahnya. Birunya lautan terlihat sepanjang mata memandang ditambah semilir angin sore begitu nikmat terasa.

WP_20140417_15_45_23_Pro_wm

” Batu granit raksasa di Pulau Babi “

WP_20140417_15_46_05_Pro_wm

” Pemandangan dari Pulau Babi “

Waktu yang singkat membuat kami harus mengakhiri kunjungan kami di Pulau Babi. Hanya sekitar 30 menit kami menikmatinya, tapi rasanya sudah cukup puas. Matahari sore semakin condong ke arah barat, jam 4 sore kami harus mengakhiri petualangan kami mengunjungi pulau-pulau yang ada di sekitar Belitung yang indah dan cantik. Walau sebenarnya masih ada Pulau Burung dan Pulau Batu Berlayar yang pantas untuk dikunjungi. Karena terbatasnya waktu membuat pulau indah tersebut terlewatkan.

Kapal kembali berlayar membelah birunya lautan menuju Tanjung Kelayang. Usai sudah cerita singkat kita berpetualang di pulau-pulau indah Belitung. Pemandangan indahnya sudah kami abadikan melalui kamera kami. Sebelum tiba di Tanjung Kelayang, kami diajak melihat dari dekat yang disebut Batu Garude (Garuda). Sebuah batu granit yang berbentuk seperti kepala burung yang terlihat dengan jelas dari Pantai Tanjung Kelayang.

WP_20140417_16_13_07_Pro_wm

” Batu Garude (Garuda) “

Kami berlabuh kembali di pasir putih Tanjung Kelayang, sekitar jam 04.30 sore. Kami berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik kapal dan juga rombongan keluarga yang ramah dan baik hati telah bersedia bergabung dengan kami. Dan kami pun berpisah dengan mereka. Sebelum meninggalkan Tanjung Kelayang, kami menikmati sejenak suasana sore di Tanjung kelayang. Mengabadikan beberapa foto kebersamaan kami.

Meninggalkan Tanjung Kelayang, motor kami kebut memburu waktu mengejar sunset di salah satu pantai yang terkenal dalam film Laskar Pelangi. Pantai dengan batu-batu granit raksasa menjulang tinggi. Pantai tersebut bernama Pantai Tanjung Tinggi. Letaknya tidak jauh dari Tanjung Kelayang. Karena saking semangatnya memacu motor, kami sempat kebablasan sekitar 2 km dari lokasi pantai.

WP_20140417_17_20_59_Pro_wm

” Lokasi syuting film Laskar Pelangi “

Setelah menemukan lokasi yang benar, motor langsung kami arahkan menuju deretan batu raksasa dengan pohon-pohon besar yang menaunginya. Sampailah kita di Pantai Tanjung Tinggi, menapak tilas lokasi syuting film Laskar Pelangi. Tempat dimana para bocah laskar pelangi bermain dengan riang gembira ditempat ini seperti yang terdapat di dalam filmnya. Tempat dimana saya dibuat takjub dengan besarnya batu-batu granit, membayangkan bagaimana cara batu-batu tersebut bisa ada ditempat ini, fenomena alam apa yang bisa membuat batu granit tersebut sampai di tempat ini.

Jingga langit senja mulai terlihat, matahari perlahan-lahan akan menghilang. Pantai Tanjung Tinggi berbentuk teluk kecil dengan lengkungan pantai yang indah dengan pasir putihnya yang cantik. Saya memulai petualangan saya ala bocah laskar pelangi. Berkeliling mengagumi batu-batu granit raksasa, memasuki lorong-lorong yang dibentuk oleh batu tersebut. Memanjat batu-batu granit melihat pemandangan laut dari atasnya. Berjalan menyusuri pasir putih yang lembut. Mengabadikan keindahannya dalam kamera.

WP_20140417_17_28_24_Pro_wm

” Langit senja di Pantai Tanjung Tinggi “

WP_20140417_17_29_17_Pro_wm

” Batu granit raksasa Tanjung Tinggi “

Pohon-pohon besar yang menaungi batu-batu granit raksasa memberi kesan yang berbeda dibanding pantai yang lain. Bahkan ada yang tumbuh menempel pada batu granit. Kesejukan Pantai Tanjung Tinggi sangat terasa dengan adanya pohon-pohon tersebut. Dijamin jika berkunjung pada siang hari akan betah berlama-lama di pantai ini. Menikmati segarnya kelapa muda di warung-warung sederhana yang terdapat disekitar pantai.

Senja jingga terlihat indah dilangit sore yang cerah. Tapi waktu jua yang membuat saya harus berpisah dengan Tanjung Tinggi yang indah. Saya memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Tanjung Tinggi dan kembali ke hotel sebelum adzan magrib berkumandang. Saya sepakat dengan teman baru dari Bandung yang memutuskan untuk tetap berada di Tanjung Tinggi sampai gelap datang dan bertemu kembali esok pagi di hotel tempat saya menginap. Dan kami pun berpisah.

Berdua bersama teman saya, motor saya arahkan ke selatan kembali ke Kota Tanjung Pandan. Mengakhiri petualangan kami di hari pertama menikmati keindahan Belitung. Tepat selepas magrib kami tiba di Kota Tanjung Pandan yang mulai bergeliat memulai kehidupan malamnya. Langsung menuju hotel, mengistirahatkan raga untuk kembali berpetualang esok hari. Mempersiapkan diri untuk perjalanan hari kedua menuju bagian timur Belitung.

WP_20140417_17_30_09_Pro_wm

” Tanjung Tinggi sore hari “

WP_20140417_17_35_51_Pro_wm

” Batu Granit, darimana kah kau berasal ? “

[BERSAMBUNG]

Advertisements

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: