Pulau Pari…Tak Ku Sesali

Created with Nokia Smart Cam

” Perahu yang kesepian “

Sabtu adalah hari dimana kebanyakan kantor meliburkan karyawannya. Tapi tidak begitu dengan kantor tempat saya bekerja di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Sabtu adalah suatu kewajiban tak tertulis untuk tetap bekerja sebagai wujud loyalitas, preett !!.

Begitu ada pengumuman bahwa hari sabtu diliburkan, bergembiralah para pekerja kurang piknik seperti saya ini. Langsung keluar ide untuk liburan ke tempat yang tidak jauh dari Jakarta. Dan Pulau Seribu adalah tujuan yang melintas dipikiran saya. Jurus loby maut langsung saya keluarkan meracuni dua teman saya, tanpa banyak negosiasi mereka bersedia tanpa paksaan. Tujuan yang saya pilih adalah Pulau Tidung. Walaupun saya sudah pernah kesana.

Hari keberangkatan pun tiba, Sabtu tanggal 1 Februari 2014. Sudah lama memang, 2 tahun yang lalu. Tapi maafkan saya yang baru sempat untuk menuangkan pengalaman saya dalam wujud tulisan dan foto di blog ini.

Created with Nokia Smart Cam

” Dermaga Pulau Pari dalam proses pembangunan “

Saya memilih menggunakan jalur alternatif untuk menuju ke Pulau Tidung. Biasanya orang-orang menggunakan pelabuhan Muara Angke di Jakarta Utara. Saya memilih menggunakan pelabuhan Rawa Saban di Tangerang. Dari info yang saya dapat, menuju Pulau Tidung lebih cepat dari pelabuhan Rawa Saban. Butuh waktu sekitar 1,5 jam sampai 2 jam tergantung kondisi cuaca. Waktu keberangkatan kapal menjelang siang hari, sekitar jam 11. Selain ke Pulau Tidung, kapal dari Rawa Saban ada juga yang menuju ke Pulau Pari dan Pulau Lancang.

Karena kami berangkat kesiangan, motor kami kebut melewati jalanan Bintaro menuju Serpong yang dilanjut mengarah ke Bandara Soekarno-Hatta. Bandara kami lewati, motor terus melaju ke arah Teluk Naga melewati daerah Kampung Melayu. Sempat melewati pertigaan ke arah Pantai Tanjung Pasir yang digunakan untuk menyebrang ke Pulau Untung Jawa. Motor kami terus melaju menuju Rawa Saban di daerah Pakuhaji, Tangerang.

Begitu sampai di pelabuhan Rawa Saban, terlihat berjajar kapal-kapal kayu di muara sungai. Jangan beranggapan kapal disini sama besarnya dengan kapal yang ada di Muara Angke. Kapal kayu di Rawa Saban, relatif kecil dari segi ukuran. Kapal terlihat mengangkut banyak barang belanjaan. Deru mesin kapal terdengar meraung-raung, menandakan siap berangkat menuju ke pulau tujuan.

Setelah bertanya ke tukang ojek, ternyata kapal yang menuju Pulau Tidung sudah berangkat beberapa menit yang lalu. Sedang yang bersiap berangkat adalah kapal yang menuju ke Pulau Pari. Tanpa pikir panjang lagi kami sepakat menuju kesana. Dari info yang saya dapat dari warga, Pulau Pari tidak kalah bagus dengan Pulau Tidung. Bahkan untuk spot snorkling lebih bagus daripada Pulau Tidung. Untuk harga tiket cuma sebesar 20 ribu waktu itu. Motor langsung kami titipkan di tempat penitipan motor. Suara kenek kapal sudah memanggil, deru mesin kapal terus meraung-raung, kami bersama penumpang lain bergantian masuk kapal. Dan kapal pun berangkat menuju Pulau Pari sekitar jam 11.30 siang.

Created with Nokia Smart Cam

” Memasuki Pulau Pari “

Di dalam kapal harus rela duduk lesehan bersama barang-barang belanjaan warga, dari tabung gas, galon air mineral, karung beras, kardus-kardus indomie dll. Kapal menjauh dari daratan pulau jawa, ombak pun mulai terasa mengguncang kapal. Karena ukuran kapal yang kecil akibatnya guncangan kapal begitu terasa. Kepala mulai terasa puyeng, rasa mual mulai menyerang. Wajah dua teman saya mulai memucat, begitu juga dengan wajah penumpang lain yang baru pertama kali naik perahu kayu ini. Antara rasa takut karena ombak dan rasa nahan mual. Kecuali wajah warga pulau yang terlihat tetap tenang. Saya memilih untuk memejamkan mata mencoba untuk tidur sejenak biar rasa mual tidak makin menyerang.

Sekitar jam 1 siang, kapal mulai memasuki dermaga Pulau Pari. Tidak sabar untuk mengexplore keindahan yang ditawarkan. Begitu mendarat di dermaga, saya langsung memutuskan untuk mencari tempat penginapan agar bisa bersantai sejenak menunggu sore. Penginapan yang kami pilih berada tidak jauh dari dermaga, menghadap langsung ke arah laut. Berupa bangunan yang mirip paviliun terbuat dari kayu dan bilik bambu. Terdapat satu kamar dan kamar mandi. Bisa untuk menampung beberapa orang. Kami menyewa seharga 300 ribu.

Created with Nokia Smart Cam

” Dermaga tempat bersandar kapal menurunkan penumpang “

Setelah dapat penginapan, rasa lapar mulai menyerang. Waktunya untuk makan siang. Kami berjalan mencari warung makan sambil melihat-lihat kondisi sekitar pulau. Kami menemukan sebuah warung yang kami rasa cocok, dengan bangku dan meja kayu di depannya. Tempatnya teduh dibawah pohon-pohon besar. Semilir angin menambah rasa sejuk disekitarnya, hingga panasnya siang yang menyengat tidak terasa sama sekali. Kami memesan indomie rebus ditambah telor dan nasi putih. Menu yang sudah cukup bagi kami untuk mengusir lapar.

Created with Nokia Smart Cam

” Merasakan teduhnya pepohonan Pulau Pari “

Selesai makan siang, kami kembali berjalan ke penginapan untuk istirahat sekedar merebahkan badan. Efek goncangan kapal masih terasa berat di kepala. Ketika berjalan kami melewati sebuah kapal kecil di pinggir pantai, dengan beberapa orang sedang sibuk membawa peralatan snorkling dimasukkan ke dalam kapal. Salah seorang datang menghampiri dan menawarkan untuk ikut snorkling, bergabung dengan rombongan asal Jakarta. Tawaran tersebut langsung kami setujui, dengan harga yang relatif murah. Per orang cuma diminta 50 ribu. Waktu snorkling sudah ditentukan, kami diminta datang kembali jam 3 sore.

Created with Nokia Smart Cam

” Pemandangan laut di depan penginapan “

Matahari mulai menghangat sinarnya, pertanda sore telah menjelang. Kami sudah siap ditempat yang diminta untuk berangkat snorkling menikmati indahnya karang laut beserta ikan-ikan yang berenang di perairan Pulau Pari. Birunya air laut menggoda untuk segera bercumbu dengannya. Kapal berangkat meninggalkan pulau menuju spot snorkling yang ternyata tidak jauh dari daratan pulau. Kami bersama rombongan sudah siap memakai peralatan snorkling.

Begitu sampai di spot snorkling, beningnya air laut membuat karang-karang sudah bisa dilihat dari atas kapal. Begitu juga dengan ikan-ikan kecil yang asik berenang disekitar karang. Tanpa berlama-lama lagi kami langsung melompat ke birunya air laut dibawah kami. Segala rasa penat hilang seketika, serasa badan dan pikiran kembali fresh. Lupakan sementara urusan kantor yang bikin stres. Nikmati hari ini, nikmati perasaan bebas lepas di alam yang indah ini.

Created with Nokia Smart Cam

” Kapal yang membawa kami menikmati bawah laut Pulau Pari “

Kurang lebih 2 jam kami menikmati surga bawah laut Pulau Pari. Kami dibawa menikmati dua spot snorkling. Kami puas bersnorkling ria bersama ikan-ikan kecil yang cantik. Melihat karang-karang yang indah. Puas mengabadikan beberapa foto. Tapi sayang foto-foto waktu snorkling dari kamera digital tidak bisa saya unggah ke blog ini karena harddisk laptop saya rusak dan belum bisa di recover isi datanya. Foto yang saya unggah merupakan foto dari kamera handphone, yang untungnya masih tersimpan di memory card.

Created with Nokia Smart Cam

” Pemandangan ke arah Pulau Pari dari spot snorkling “

Senja mulai terlihat, bersiap menenggelamkan matahari ke dalam gelap. Keceriaan snorkling telah usai, bersiap kembali menikmati Pulau Pari di bagian lain. Dengan menyewa sepeda, kami berniat berkeliling menikmati sore hari. Tempat yang kami tuju adalah ke bagian barat pulau, yaitu ke Pantai LIPI. Dengan menyusuri jalanan pulau yang terbuat dari paving blok kami menuju ke Pantai LIPI.

Sampai di LIPI, kami memarkir sepeda dan memasuki gerbang pusat penelitian LIPI menuju pantai dengan berjalan kaki. Kami terus berjalan melewati beberapa bangunan LIPI, melewati rimbunan pohon bakau dan akhirnya sampai di ujung jalan dengan pemandangan lautan luas. Menurut saya Pantai LIPI biasa saya tidak terlalu bagus dan yang paling mengganggu adalah pemandangan banyaknya sampah disekitar pantai. Sangat disayangkan. Tapi lumayan bisa melihat pemandangan senja dari pantai ini.

Created with Nokia Smart Cam

” Senja Di Pantai LIPI “

Malam pun tiba, kami berniat menuju ke sisi timur pulau. Sambil mencari tempat untuk makan malam. Dengan kembali menggunakan sepeda, kami menyusuri jalanan pulau. Melewati pemukiman penduduk dan sampailah kita di Pantai Pasir Perawan. Setelah memarkir sepeda, kami berjalan-jalan melihat sekeliling pantai. Karena sudah malam kami tidak bisa melihat birunya laut di pantai ini. Yang telihat cuma beberapa warung makan, pohon cemara, saung-saung kecil, dan beberapa tiang lampu yang menerangi tempat ini. Saya yakin andai saja saya kesini waktu hari masih terang, pasti tempat ini sangat indah dengan pasir putih yang lembut dan air laut yang biru.

Karena tidak bisa menikmati pemandangan pantai, kami sepakat memasuki salah satu warung yang menyediakan ikan bakar. Karena perut sudah terasa lapar dan belum lengkap rasanya kalau ke pulau tidak merasakan nikmatnya ikan bakar. Kami diminta memilih sendiri jenis ikan yang mau dibakar. Kami memilih 2 jenis ikan laut, saya lupa namanya ikan apa. Tapi rasanya jangan ditanya, yang pasti lezat. Maknyus mantap jaya. Kami menyantap ikan bakar yang disajikan dengan sambal kecap nikmat. Perut sampai kekenyangan dibuatnya.

Created with Nokia Smart Cam

” Kapal-kapal rapi terparkir di dekat dermaga “

Kembali ke penginapan, menikmati malam dengan bersenda gurau bersama. Sampai tak terasa waktu menunjukkan tengah malam. Malam mulai meninggi dan kami pun terlelap dalam dekapan malam hingga pagi menjelang. Kami tidak bisa lagi menikmati keindahan Pulau Pari karena kapal yang menuju ke Rawa Saban berangkat jam 07.30 pagi. Rasa penasaran akan Pantai Pasir Perawan harus ditunda, mungkin di lain kesempatan.

Sekitar jam 07.30 pagi, kami sudah siap di dermaga bersama penumpang lainnya. Kebanyakan penduduk pulau yang hendak berbelanja kebutuhan pokok di daerah Tangerang. Untuk kapal yang menuju ke Muara Angke berangkat sekitar jam 12 siang. Jadi kekurangan menggunakan jalur Rawa Saban yaitu waktu yang kita habiskan di Pulau Pari lebih singkat. Tapi sensasi menggunakan kapal kayu kecil lebih menantang, dengan guncangan ombaknya yang bisa bikin deg-degan.

Created with Nokia Smart Cam

” Pulau Pari aku akan kembali “

Kapal perlahan meninggalkan dermaga Pulau Pari dengan kenangan yang tidak akan saya lupakan. Walaupun cukup singkat menikmati keindahannya, tapi itu sudah cukup membuat saya pengen kembali lagi. Tak kusesali datang ke Pulau indah Pari, gagal ke Pulau Tidung membawa keberuntungan bagi saya bisa mengenal pulau ini. Bisa menikmati keindahannya, mendapatkan pengalaman lain mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Terima kasih Pari, lain kesempatan saya akan mengunjungimu lagi.

Created with Nokia Smart Cam

” Pulau Pari bikin pengen kembali “

Advertisements

Tags: , , , , , ,

About Mitra PW

saya bukanlah siapa-siapa...hanya seseorang yang ingin menikmati kehidupan yang hanya sekali ini diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: